Trending
Loading...
  • New Movies
  • Recent Games
  • Tech Review

Romantika

Romantika

Game Reviews

Recent Post

Selasa, 09 September 2014
Catatan Hari Ini : Tanya Dariku

Catatan Hari Ini : Tanya Dariku

Tanya Dariku
Abd. Rahman/Ame’                
Kanang, 05/08/2014



Terbangunku dalam tanya yang menghujat
konsekuensi yang di sebab akibatkan oleh idealis yang tak akurat
dan di jabarkannya kesesatan dalam propaganda para aristokrat
sehingga bangsa yang penuh kehormatan
tak lagi memiliki kebenaran dan kedamaian


Ambigu dalam alienasi yang menghancurkan
posisi yang kontradiktif dalam dialektika kehidupan
Tak ada kelinearan materi saat menegasikannya
Namun dengan Konsepsi revolusi yang rasional
Yang Menghantam kerasnya benteng marjinal
Menghujam sisa–sisa feodalis yang mengganjal
Memaksa kerajaan kapital
tumbang yang memang abnormal
dan membangunkan embrio sosialis yang orisinal 


Meng-oposisikan diri dalam garis berlawan
memang bukanlah sebuah solusi namun suatu keharusan
walau dengan justifikasi yang menghantam
walau dengan teriakan yang harusnya di bungkam
namun dengan semangat juang yang memaksa diaknesasi
Hingga akhirnya dengan mendepolitisasi
menjadi sebuah keabsahan solusi
yang takan lagi di dramatisir olehnya yang anani


Hey kau yang menjustis dirinya sebagai Tuan
dapatkah kau memperlihatkan sebuah keadilan
dapat kah kau memberikan sebuah jawaban
yang kemudian signifikan
dengan keadaan yang semakin menunjukkan
penindasan, penghisapan, dan pengeksploitasian


Hey kau sang pemberi modal
dapatkah kau mendeteksi sesuatu yang krusial
dan menunjukkan kebenaran yang tak lagi relatif namun aktual
tak lagi pragmatis dalam menjelaskan gagasan yang ideal
sehingga sesuatu yang kami harapkan
tak lagi menjadi justifikasi utopia yang dipaparkan
oleh mereka yang ingin kau hancurkan


Ini bukanlah celoteh anak ingusan yang alegoris
dan juga bukanlah uraian apologi seorang akademis
apa lagi tuntutan-tuntutan orasi para aktivis
namun ini adalah ribuan tanya yang penuh analisis
tanpa konspirasi teori yang retoris
yang hanya memposisikan pada kebutuhan individualis


Hey kau yang bergelar Agen Perubahan
eksistensimu kini di pertanyakan
mampukah kau merubah dunia dengan demonstran
mampukah kau menata dunia yang telah berantakan
Hey kau si penyambung lidah Rakyat
tahu kah kamu yang di inginkan Rakyat
tahukah kamu yang di butuhkan para Proletariat


Kesesatan semakin membodohi karna manipulasi
hegemoni karna kendali dari para penghuni tirani
yang semakin membebani,
memaksa untuk bersaing hingga salah satu dari kita akan mati

haruskah kita ke palestina memastikan peperangan yang terjadi
menanyakan apakah itu perang Agama
walau ternyata itu adalah krisis ekonomi
haruskah kita kembali menanyakan
peristiwa pengeboman gedung putih
yang katanya dilakukan pihak teroris Al Qaedah
walau ternyata hanyalah Fitnah keji
karena pengalihan issue politik internal Amerika
haruskah kita mengungkit kembali kasus Bank Century
yang pada saat bersemaan di beritakan juga
kasus vidio porno C.T L.M dengan Ariel
yang ternyata kasus vidio itu hanyalah pengalihan issue
untuk menutupi pemberitaan kasus bank century
yang memberikan banyak kerugian kepada Bangsa
hey Agen Perubah Hey Kaum muda
harus kah kita seperti itu ?


Datanglah para Agen Perubah yang islami
memberikan kritik dan penjelasan yang sukar di pahami
namun hanya teori beretorika yang mampu di pamerkan
tanpa adanya kesatuan tindakan dan gerakan
Datanglah juga rombongan kaum muda yang moralis
menjelaskan secara detail tentang permasalahan negeri
mencoba memeberikan solusi tentang kultur yang terkikis
agar di selamatkan untuk menyelamatkan negeri
dan Turut juga kaum yang mulia “katanya”
memberikan gagasan yang keras
tak berimbang, dan tidak sesuai dengan realita yang ada


Sampai kapan kita akan bergulat pada persoalan defenisi
atau teori yang tak ternilai karena tidak adanya praktek nyata
sampai kapan kita akan berbangga
pada budaya yang juga telah di kapitalisasi
sampai kapan kita akan beradu argumen
yang hanya membawa satu kepentingan
satu Agama, satu sistem, hingga satu person
tanpa Agama, sistem dan person lain


Hey kaum muda sampai kapan kita akan tertidur
tidur nyenyak dalam nina bobok yang terorganisir
sampai kapan kita akan saling menjatuhkan
bahkan sampai-sampai harus dengan gelar kafir


Kalian mungkin telah terombang-ambing
terperangkap dalam hegemoni para pengadu kambing
bak harimau forum yang telah patah taring
akhirnya hanya bersisakan argumen yang kocar-kacir
membuat para penguasa tertawa dengan cengar-cengir
karena telah berhasil membuat kita menjadi fakir
fakir ilmu dan pembacaan kondisi yang begitu mubazir


akankah tetap seperti ini
akankah tetap di jajah di negeri sendiri,
perubahan ada di tangan kalian
jika memang seperti itu
tunjukanlah dan raih sebuah kebenaran sejati
kebenaran yang penuh dengan kedamaian
kebenaran yang penuh dengan Kasih sayang

Ame Left Proletar
Catatan Hari Ini : Surat Lusuh Untuk Kaum Muda

Catatan Hari Ini : Surat Lusuh Untuk Kaum Muda

Surat Lusuh Untuk Kaum Muda
 
Kepada Kaum Muda Yang Agung.
Dari Ame’ dan Keluarga.
Salam Pelopor !!!
Mendung kini menyelimuti kota Parepare. Di samping komputer tempo doeloe dan di bawah sinar lampu yang sesekali padam karena sudah tak mampu lagi menemaniku di kala berkelana dengan pena. Namun kesetiaannya akan selalu ku kenang dan ketika Ia padam untuk selamanya, ku akan mencoba menuangkan ceritaku bersamanya dalam tulisan-tulisan seperti tulisan ku terdahulu. dan mungkin sepucuk surat lusuh untuk kaum muda ini adalah tulisan terakhir dimana sinarnya masih bisa ku nikmati. 
Saat menulis surat ini, sering kali ku menutup pena untuk sejenak berfikir apa yang akan kusampaikan padamu si kaum muda. Ku masih bertanya-tanya siapakah kaum muda itu ? siapa kalian ? siapa kalian yang seakan di daulat sebagai Agen Perubahan, dikatakan sebagai kaum yang mampu mengontrol kehidupan social, Kaum yang selalu di agung-agungkan. Tapi ku heran mengapa disaat kalian di puja puji, terkadang pula kalian di caci, di abaikan, di katakan perusak, di benci, di musuhi bahkan untuk di lenyapkan. Tapi ku yakin kalian bukanlah sosok misterius, kalian bukanlah sosok kaum yang seharusnya di lenyapkan. Oh iya, di dalam surat ini, aku juga ingin menyampaikan tapi mungkin lebih tepatnya mengingatkan kembali bahwa sekarang negeri kita, masyarakat kita, orang tua kita, kini telah di perlakukan seperti seorang budak di rumah sendiri. Kita bagaikan tuan rumah yang di jadikan budak oleh tamunya di rumah sendiri, dan sebenarnya kita pun Juga merasakan hal itu. Tapi masalahnya apakah kita merasa di perbudaknya ? Tentang perbudakan di negeri sendiri Mungkin kalian sudah tahu atau justru lebih tahu. Kalian pernah dengar tidak sesorang yang mengatakan bahwa jika ingin menguasai dunia kuasailah Indonesia terlebih dahulu. Perkataan itu juga mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kalian. Tapi pernah kah kalian berfikir bahwa betapa kayanya negeri kita sehingga orang itu mengatakan hal tersebut. Mungkin kalian juga sudah berfikir tentang itu sebelum aku memikirkannya dan memberitahumu. Itulah hebatnya kalian.
Kemarin malam aku duduk bertiga dengan mama dan adik kecilku di ruang tamu, lebih tepatnya kami sedang menikmati hiburan dari televisi kecil yang tergolong tua. Salah satu benda yang begitu mewah bagi kami. Kami tinggal bertiga di sebuah rumah kecil peninggalan Ayah, tepatnya berada di sudut kota yang begitu jauh dari kehidupan atau ramainya kota Parepare Sulawesi Selatan. Namaku Ame’, Aku sendiri sudah duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Umum. Adik kecilku masih belajar di sekolah dasar dan kesibukan mama sebagai buruh cuci dari tetangga-tetangga yang menggunakan jasanya.
Maaf soal perkenalan keluarga kecilku tadi, aku berfikir kalian akan bertanya-tanya bahwa siapa penulis dan pengirim surat ini jika aku tidak memperkenalkan diri. Sampai saat ini aku masih bingung untuk menetapkan isi atau inti dari suratku ini, tapi kalian harus tahu bahwa surat ini bukanlah surat yang bernada romantisme atau sesuatu yang bersifat ceremonial semata.
Saat menonton bertiga dengan keluargaku, aku menyaksikan puluhan orang dari kaummu yang melakukan aksi demonstran. Aku salut, kalian memang tidak salah di nobatkan sebagai penyambung lidah rakyat. Tapi jujur, aku takut salah dan menyesal telah mengatakan hal tersebut. Oh iya, aku mau bertanya, benderah merah, kuning, hitam, biru, dan sebagainya dan baju kuning, merah, biru, coklat dan sebagainya juga. Mengapa harus ada. Bukankah kalian satu dalam kaum muda ? mengapa harus berwarna-warni, mengapa harus terkotak-kotakkan. Aku juga sering mendengar perselisihan yang terjadi antara kalian sesama kaum muda. Apa karena perbedaan warna benderah dan baju tadi, tapi persoalan itu adalah persoalan kalian. Tidak usah kita perdebatkan. Sebelum meninggalkan topic perbedaan kalian, bagaimana jika perbedaan kalian, warna-warninya kalian berpegangan dalam satu gerakan, Satu tujuan. walau perselisihan kalian terjadi hanya karena perbedaan idiologi. Jika kalian ingin bersatu, kalian bisa mempertimbangkan saranku tadi. Bagiku tidak perlu untuk menjadi satu, cukup kalian bersatu.
Maaf jika aku yang banyak Tanya, yang jelas aku bukan wartawan. Aku hanyalah anak dari keluarga kecil yang masih merasa di jajah dan belum merasakan kemerdekaan. Penjajahan oleh system kapitalisme yang mungkin kalian lebih tau dan mengerti akan istilah tersebut.    
Kalian masih ingat tidak ribuan kaum muda terdahulu yang atas nama rakyat turun kejalan meneriakkan perlawanan terhadap rezim Soeharto dan berhasil menggulingkan Soeharto dan orbanya di ganti dengan reformasi. Ku pikir kita akan sejahtera setelah peristiwa itu, tapi ternyata tidak ! kita masih saja di di perbudak di rumah sendiri. Apa benar itu murni gerakan atas nama rakyat. Apa benar gerakan itu tidak di tunggangi oleh kelas borjuasi, atau jangan sampai gerakan itu justru settingan dari kapitalis juga. Tapi kalian lah yang lebih tau akan hal itu.
Setelah melihat kaummu sekarang ini, agak sedikit sulit untuk merealisasikan saranku tadi, bahkan hanya untuk mempertimbangkanpun juga mungkin tak dapat. Aku merasa rindu melihat warna-warni benderah berpegangan dalam satu barisan ketika melakukan aksi di jalanan, bagiku itu terlihat indah dan mengagumkan. Tapi ku kembali lagi mengatakan, mungkin sulit untuk itu. Tapi jangan sampai karena tujuan yang memang sudah berbeda di karenakan adanya kepentingan dari warnanya kalian. Kasihan jika memang sudah seperti itu.
Kembai lagi aku ingin bertanya  siapa sebenarnya kalian ? apakah kalian sadar dimana posisi kalian. Bukankah kalian juga yang di daulat sebagai kaum terpelajar. Jangan sampai dengan ilmu yang tinggi justru kalian gunakan untuk membohongi orang lain. Seperti  yang telah kita ketahui, negeri kita masih di jajah. Apa kalian sadar akan penjajahan gaya baru ini. Mungkin kalian belum sadar, tapi jangan sampai kalian sadar, namun tak mau bergerak untuk merubahnya atau apatis terhadap semuanya. Tapi aku tetap pada prasangka ku bahwa kalian itu orang-orang yang hebat.
Kalian tahu tidak apa itu kapitalisme ? jelas kalian pasti tau, aku yakin itu. Tapi apakah kalian juga tau apa dampak dari kapitalisme. Sekali lagi kalian juga pasti tau akan hal itu. Prasangka ku memang tidak meleset bahwa kalian itu orang-orang yang hebat. Jika kalian sudah tau semua, atau mungkin kalian lebih tau. Mana gerakan nyata kalian untuk membebaskan rakyat dari kedzaliman kapitalisme di negeri kita.
Aku hanya bisa memanggilmu kaum muda, maaf jika panggilan itu tidak terlalu keren di telinga kalian. Untuk akhir dari suratku, aku lagi-lagi berharap kalian sadar akan posisi yang mengerti kondisi hari ini. Maaf juga jika akau banyak Tanya, kalian tidak perlu menjawab semua pertanyaanku tadi. Bahkan kalian tidak usah mengirim surat balasan kepadaku. Dan untuk pertanyaanku yang menanyakan siapa kalian, juga tidak usah kalian jawab. Karena aku lebih tau siapa kalian di bandingkan kalian sendiri. Mungkin hanya itu kehebatanku.
Terima kasih….   
Parepare, 25 Februari 2014.
Copyright © 2014 Catatan Jejakku
Distributed By Blogger Template | Designed By Odd Themes
Back To Top